Empat raksasa teknologi melaporkan lonjakan laba, namun investor mulai mempertanyakan efisiensi dari pengeluaran infrastruktur AI yang mencapai ratusan miliar dolar.
Laporan keuangan kuartalan yang dirilis serentak oleh Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon minggu ini menunjukkan satu realitas tunggal, AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan mesin pertumbuhan utama. Pendapatan kolektif keempat perusahaan ini melonjak 60% dibandingkan tahun lalu. Di Google, integrasi AI dalam mesin pencari telah mendorong penjualan iklan tumbuh 19%. Sementara itu, unit chip AI Amazon melaporkan pertumbuhan tiga digit yang mencengangkan.
Namun, di balik angka-angka gemerlap tersebut, terdapat angka lain yang membuat pasar gugup: belanja modal (Capex). Meta dan Alphabet masing-masing memproyeksikan pengeluaran hingga $145 miliar dan $190 miliar tahun ini, sebagian besar untuk membangun pusat data AI. Pasar bereaksi beragam; saham Meta sempat terkoreksi karena kekhawatiran akan margin keuntungan jangka panjang. "Pertanyaannya bukan lagi apakah AI bekerja, tetapi kapan efisiensi biaya akan menyusul ambisi infrastruktur ini," tulis analis Goldman Sachs. Di tengah euforia, investor kini mulai menuntut bukti bahwa pengeluaran masif ini akan menghasilkan aliran kas yang berkelanjutan, bukan sekadar perlombaan senjata komputasi.
Empat raksasa teknologi (Alphabet, Microsoft, Meta, Amazon) melaporkan pertumbuhan laba yang signifikan.
Belanja modal untuk infrastruktur AI mencapai rekor tertinggi (Alphabet memproyeksikan hingga $190 miliar).
Investor mulai beralih dari fokus pada pertumbuhan ke fokus pada efisiensi biaya operasional AI.
