finance,

Geopolitik dan Guncangan Harga: G7 Bertahan di Tengah Badai Inflasi Baru


Bank sentral utama dunia memilih untuk menahan suku bunga saat tensi di Timur Tengah mengancam stabilitas rantai pasok energi global

Hari ini, para pemimpin bank sentral negara-negara G7 berada dalam posisi yang tidak menyenangkan. Di tengah harapan pasar akan pelonggaran kebijakan moneter, eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya keterlibatan langsung Iran, telah memaksa Federal Reserve dan mitra globalnya untuk menunda pemangkasan suku bunga. Harga minyak yang kini menembus ambang $100 per barel menjadi katalisator utama kecemasan ini.

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, dalam apa yang diprediksi sebagai salah satu pertemuan terakhirnya, memberikan sinyal kuat bahwa "kewaspadaan adalah prioritas." Data menunjukkan bahwa inflasi yang sempat mendingin di awal tahun 2026 kini kembali merayap naik akibat gangguan di Selat Hormuz. Analis dari Société Générale mencatat bahwa tekanan pada rantai pasok global sedang membangun "badai sempurna" yang bisa memicu resesi global jika tidak dimitigasi dengan kebijakan yang presisi. Di Inggris, pemerintahan Keir Starmer kini harus berhadapan dengan dilema serupa: menjaga pertumbuhan ekonomi tanpa membiarkan inflasi melahap daya beli masyarakat.

  • Bank sentral G7 (AS, Inggris, Jepang, Kanada, Uni Eropa) diprediksi kuat menahan suku bunga hari ini.

  • Harga minyak di atas $100 per barel menjadi ancaman inflasi baru.

  • Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menggeser fokus dari "pemulihan" ke "bertahan".


pic source by wiki